CARA BERKOMUNIKASI DAN MEMBERIKAN DUKUNGAN PADA ODHA
Oleh : Widia Ainunnisa (161101096)


Apa itu HIV AIDS???
Aids merupakan singkatan dari Acquired immune deficiency syndrome atau acquired immunodeficiency syndrome (aids) merupakan sekelompok kondisi medis yang menunjukkan lemahnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV), Istilah lain dari HIV AIDS yaitu Odha.
ODHA sendiri mengacu pada Orang dengan HIV dan AIDS. Odha digunakan sebagai pengganti istilah untuk seseorang yang dinyatakan positif terinveksi HIV.  ODHA mulai digunakan untuk menggantikan istilah pengidap, penderita, dan istilah lain yang dinilai kurang manusiawi. Sekarang, istilah ODHA sudah digunakan secara luas untuk menggantikan kata pengidap.

Bagaimana proses penularan HIV AIDS??
Proses penularannya  melalui banyak cara seperti :
1.      Hubungan seks anal, Vagina atau oral sex
2.      Transfusi darah
3.      Jarum suntik yang terkontaminasi
4.      Penularan antara ibu dan bayi selama kehamilan, melahirkan, dan menyusui (khusus untuk menyusui kami akan bahas tersendiri pada tulisan yang lain).
Penularan tersebut melalui kontak selaput lendir atau aliran darah dengan cairan tubuh yang memiliki virus di dalamnya seperti :
1.      Darah
2.      Air mani
3.      Cairan vagina
4.       ASI dari orang yang terinfeksi.
HIV AIDS tidak akan menular dengan cara :
1.      Berjabat tangan
2.      Bercakap-cakap
3.      Makan bersama
4.       Menggunakan alat yang sama

Cara berkomunikasi atau konseling pada pasien HIV AIDS :
1.      Mendengarkan
a.    Mendengarkan secara pasif yaitu dalam hal ini konselor memakai istilah “dancing by client” atau mengikuti irama/suasana hati klien untuk menceritakan masalahnya, namun bukan dalam artian mengikuti dan kemudian melupakan tujuan konseling. Konselor berusaha menciptakan suasana yang mendukung bagi klien untuk bercerita dan mengeluarkan uneg-unegnya secara leluasa tanpa mendapatkan judgement.
b.    Mendengarkan secara aktif terjadi saat adanya diskusi diantara keduanya. Klien menceritakan pengakuan-pengakuan terkait perilaku-perilaku beresiko yang pernah dilakukan. Dan tugas konselor sebatas mendengarkan sambil sesekali memancing klien, agar klien berpikir mencari jawaban atas perilaku apa yang menyebabkan dirinya tertular HIV. Ketika klien sudah menemukan jawabannya sendiri, di sinilah konselor berperan untuk memberikan masukan guna mendorong klien bangkit kesadaran dan bersedia mengubah perilaku beresikonya.
2.    Tahap Hubungan Antarpribadi
Konselor membangun kedekatan sebatas untuk menggali informasi-informasi masalah klien dan upaya pemberian bantuan psikologis tanpa ada maksud untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya yang lebih serius
3.    Self Disclosure
Proses pengungkapan informasi diri dalam konseling terjadi berkaitan dengan hidden area klien. Klien yang datang pertama kali ke proses konseling berusaha menutupi hal-hal berkaitan dengan riwayat perilaku beresikonya. Dengan pertemuan yang berulang kali dan seiring dengan kepercayaan dan rasa nyaman yang tumbuh, klien perlahan mau terbuka kepada konselor terkait latar belakangnya.

Cara berteman dengan ODHA :
ODHA juga merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang sehat lainnya, terdapat beberapa cara berteman dengan ODHA yang tepat, yaitu seperti :
1.      Tidak membedakan ODHA dengan orang sehat lainnya
ODHA dapat beraktivitas seperti orang lain pada umumnya. Dengan melemahnya sistem kekebalan tubuhnya secara perlahan bukan berarti mereka tidak mampu lagi untuk beraktivitas seperti biasanya. Dengan tidak membedakan status mereka dalam masyarakat secara tidak langsung akan memberikan kekuatan kepada mereka untuk tetap kuat dan beraktivitas.
2.      Mengajak curhat
Adakala ODHA membutuhkan tempat dimana ia dapat menuangkan segala isi pikiran dan perasaanya. Mengajak curhat ODHA juga ada baiknya dengan tidak memaksanya untuk segera membuka hatinya kepada kita. Segala pendekatan kepada ODHA juga perlu dilakukan dan pastikan bahwa kita merupakan tempat yang dapat menampuk segala unek-uneknya dan memberikan solusi terbaik atas masalah yang sedang di hadapinya.
3.      Melibatkan mereka dalam kegiatan
Dengan melibatkan ODHA ke dalam berbagai jenis kegiatan dan aktivitas dapat membuatnya  melupakan perasaan dikucilkannya dan membuat ODHA merasa bahwa ia juga merupakan bagian dari masyarakat dan di butuhkan kehadirannya. Manfaat lainnya yang dapat dirasakan oleh pasien adalah dengan melakukan kegiatan akan menjadi cara menjaga kesehatan pendeirta hiv yang efektif.
4.      Usahakan tidak menyinggung perasaan mereka
Cara berteman dengan ODHA selanjutnya yaitu dengan mengajak mereka berkomunikasi tanpa membuat perasaan mereka tersinggung dengan ucapan dan bahasan yang kita utarakan kepada mereka.
5.      Tidak memberikan perlakuan diskriminatif
Pasien HIV/AIDS dalam kehidupan sehari-hari ada kalanya merasakan perlakuan yang tidak adil dengan cara dikucilkan dari tengah-tengah masyarakat, oleh karena itu banyak dari mereka yang lebih memilih menyendiri dalam ruangan dan diam-diam melakukan aktivitas sehari-harinya. Peran keluarga dan sahabat memberikan peran penting dalam hal ini oleh karena itu ada baiknya mempelajari tips merawat penderita hiv aids di rumah yang baik dan diusahakan untuk tidak memojokan ODHA dalam pertemanan karena selain dapat menjaga perasaannya. Mereka juga akan merasakan dihargai oleh kita yang berusaha menerima mereka apa adanya dengan kehadiran penyakit yang di deritanya.
Beberapa cara berteman dengan ODHA di atas dapat diterapkan dalam menjalin pertemanan dengan pasien penyakit ini. Pada dasarnya perasaan saling memahami dan menerima satu sama lain dengan segala kekurangan yang ada merupakan kunci keberhasilan dalam Sebuah penyakit tidak akan mampu membuat seorang pasien berubah menjadi pribadi yang jahat apabila lingkungan sekitarnya menerima kondisi yang dialaminya tersebut menjalin pertemanan dengan ODHA.

Cara memberikan dukungan keluarga dan dukungan sosial pada ODHA :
1.      Dukungan keluarga
a.       Berperan aktif dan mendampingi  dalam setiap pengobatan dan perawatan sakitnya.
b.      Selalu berusaha untuk mencarikan kekurangan sarana dan peralatan perawatan yang diperlukan.
c.       Keluarga tidak pernah melarang ODHA ntuk telibat dalam kegiatan sosial di kampungnya.
2.      Dukungan sosial
Ada beberapa cara untuk memberikan dukungan sosial pada Odha. Menurut Sarafino (2006), dukungan sosial dibagi menjadi 4 yaitu dukungan emosional dan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan informasi, dan dukungan persahabatan :
a.       Dukungan emosional dan penghargaan. Kedua dukungan ini mengarah pada pemberian perhatian, kepedulian, ekpresi empati, dan kasih sayang pada Odha. Selain itu, Kita juga bisa memberikan dorongan yang positif serta menghargai ide, keputusan, dan perilaku yang Odha lakukan, misalnya : Mengingatkan Odha untuk teratur minum obat, Hal ini merupakan bentuk perhatian dan kepedulian pada Odha dan Memuji Odha atas ide dan kerja keras yang dilakukannya.
b.      Dukungan Instrumental. Dukungan ini mengarah pada pemberian bantuan secara langsung atau tidak langsung yang dapat berupa jasa atau benda. Misalnya, memberikan perlengkapan hidup, kebutuhan rumah tangga, dan membantu Odha mengurus kehidupan mereka.
c.       Dukungan Informasi. Dukungan ini mengarah pada pemberian saran, nasihat, kritikan, dan petuah yang dapat membantu Odha untuk menghadapi kerasnya hidup dan perlakuan diskriminatif yang mungkin diterima dengan sabar dan tabah, misalnya : Menasihati odha untuk tetap tabah dan sabar dan Menasihati Odha tentang bagaimana menjaga diri dan orang lain di sekitarnya.
d.      Dukungan persahabatan. Dukungan ini erat kaitannya dengan hakikat kita sebagai makhluk sosial. Dukungan ini mengarah pada pemberian dukungan berupa penerimaan dalam sebuah kelompok atau lingkungan sehingga Odha merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat, misalnya : Tetap menjalin komunikasi dengan Odha dan Tidak mengucilkan Odha dari pergaulan masyarakat.


Daftar Pustaka :
https://www.odhaberhaksehat.org/2013/dukungan-sosial-pada-odha/
DokterAids.com

Komentar